Cinta III

on Jumat, 16 Desember 2011
kembali kepada kita.. untuk sungguh mau mencintai seseorang tanpa syarat... atau justru diam diam mencintai syarat itu sendiri dan seolah olah merepresentasikan cinta dalam sosok dan keberadaan orang yang katanya amat sangat kita cintai itu..


Ini adalah lanjutan dari postingan yang sebelumnya, Cinta II dan merupakan sebuah klarifikasinya.

Pada Cinta II saya mengajak untuk Pantang jatuh cinta. Bukan pantang jatuh cinta dalam konotasi yang sebenarnya, tapi jangan jatuh cinta kalau kita justru mencintai syarat, atau mensyarati cinta.

Saya pun sangat setuju seperti yang seorang katakan bahwa kita harus mencintai siapapun, keluarga, sesama, dan alam semesta dengan syarat yang kita sebarkan adalah bentuk cinta kita dalam kebaikan, kemanfaatan, karena kecintaan kita pada sesuatu yang baik dan membaikkan, atau mengharapkan hasil yang baik.

kenapa?, karena tak semua cinta itu dapat dimengerti dengan baik dan membaikkan meskipun sebenarnya hakikat cinta dariNya itu baik. Apalagi cintanya manusia. tapi saya yakin, suatu kebaikan itu pastilah baik, dan kebaikan tidak akan pernah bercampur dengan sesuatu yang buruk. tapi kalau cinta?, mmm.. menurut anda?

saya punya cerita.. tidak dalam maksud mengundang perdebatan, atau menyalahkan sebuah argumen tapi cerita ini cukup membuat saya ingin mengabadikannya dalam sebuah tulisan dan menunggu sebuah tanggapan.

Coba kita andaikan dengan kisah yang mukin akan kita jalani nanti, sebagai seorang istri, ataupun suami. Masihkah kita mau tetap menerima istri atau suami kita jika suatu hari kita mengetahui hal hal yang tidak kita sukai? dan siapa tahu sang cinta tak pandai lagi membuat kita bahagia seperti dulu?

saya sering mengamati, banyak perceraian terjadi, patah hati, dan pesakitan akibat ketidakcocokan. banyak rumah tangga tercerai berai atau diceraiberaikan akibat satu atau kedua belah pihak gagal menemukan apa yang diinginkan?,jika memang benar begitu, maka sebuah pertanyaan dasar muncul dari pikiran saya; "sungguhkah kita mencintai kekasih kita?, atau kita mencintai syarat syarat yang kita lekatkan pada pasangan kita?.

Saya jadi ingat, dalam sepak bola, terjadi kisah yang serupa. Mantan juara liga Champions 2007, AC Milan dan mantan pelatihnya dulu Carlo Ancelotti. Dalam catatan karirnya, kinerja tim mengecewakan untuk raksasa sekelas AC milan. bukan hanya tersisih di Coppa Italia dan Liga Champions 08-09, namun belum pasti bisa masuk 4 besar klasemen liga untuk mendapatkan tiket liga champions tahun depan. Posisi pelatih pun diyakini tengah terancam. Lebih parah lagi, berada di posisi 5, kesempatan disalip Udinese pun semakin besar.

Namun, dengarlah apa yang dikatakan Silvio Berlusconi, Presiden AC Milan. "Ancelotti adalah bagian dari keluarga Milan dan saya menginginkannya ditahun tahun mendatang. Dia telah mencintai klub ini dan kamipun mencintainya".

Milan, paling tidak, sungguh mencintai Ancelotti apa adanya. Mereka, supporter, pemain, offisial,dan presidium tim berada di belakang dengan dukungan penuh tanpa syarat saat sang pelatih menghadapi hari hari berat. Tak ada syarat apapun yang diberikan.

Memang, lebih mudah melakukan hitung hitungan untung rugi dalam jual beli yang didasari jelas hasilnya. Milan mungkin telah memperkirakan untung dan ruginya apabila tetap mempertahankan Ancelotti tanpa syarat apa pun. Sebuah keputusan yang belum tentu bisa dengan mudah kita ambil dalam keseharian kita yang syarat perasaan ini.

Soal cinta misalnya, kembali kepada kita.. untuk sungguh mau mencintai seseorang tanpa syarat... atau justru diam diam mencintai syarat itu sendiri dan seolah olah merepresentasikan cinta dalam sosok dan keberadaan orang yang katanya amat sangat kita cintai itu..

Pengertiannya kurang lebih hampir sama seperti yang dikatakan Mario Teguh pada tema Derita Cinta.

Itulah mengapa pada  Cinta II
Saya katakan "Mari kita pantang jatuh cinta" APABILA, pengertian jatuh cinta berhenti pada pikiran harus bersiap menerima apa adanya, siap pusing, sedih dan bingung saja. Tidak, tak hanya dijadikan sebuah ungkapan perasaan cinta dan sayang kita kepada seseorang, lebih dari itu kita harus buat rasa jatuh cinta itu sebagai acuan atau semangat kita untuk berbuat dan memberikan yang terbaik dari kita untuk orang yang kita cintai. Dalam kondisi apapun.
Maksud saya adalah Kita berbuat yang terbaik dari kita (keduanya), bukan yang terbaik sesuai yang diinginkan orang yang kita cintai saja.

hmmh.. sudah dululah cinta cintaanya.. capek! hee




2 komentar:

Anonim mengatakan...

bagaimana menyikapi orang yang kita sayang sayang tapitak menganggap kita itu ada?

Primadi Fadhil mengatakan...

hmmmmhh.. itu namanya secret admirer??, alias CIdaha, cinta dalam hati... coba buka yang ini.... http://primadifadhil.blogspot.com/2011/12/cidaha.html

Poskan Komentar