Terserah atau Mendua

on Senin, 26 November 2012

Jarum jam hampir menunjukkan angka setengah enam sore. Hmmh... Waktu yang cukup berarti karena itu artinya saya hanya puya waktu setengah jam untuk membereskan semua kerjaan saya hari ini. Terlambat sedikit saja maka janji menjemput dan bertemu seseorang bakal berantakan. Maklum, kuliah sambi menjadi freelance kadang tak menyisakan ruang sedikitpun untuk bisa melenggang santai tanpa gangguan pikiran.

Buru buru saya menyimpan semua file desain publikasi sebuah seminar, menyeleksi semua hasil kerja seharian. Semua file saya sortir dan saya masukkan ke dalam folder dimana seharusnya ia berada. Beberapa menit sebelum pukul enam, semua tuntas.

Ready to go...

Namun, semua berantakan ketika melihat sebuah pesan halus dari balik layar "terserah jadi ketemu atau tidak. Kalau buru buru mendingan gak usah daripada ngrepotin", katanya polos tanpa kompromi atau basa basi.

Maksudnya baik, mencoba mengerti situasi saya. Tapi saya justru merasa semua usaha saya untuk menepati janji tidak dihargai. Saya kecewa dan akhirnya memilih untuk tidak pergi.

Ya, kata TERSERAH ternyata bisa merusak segalanya. Sebuah kata yang pada dasarnya bermaksud untuk menghargai orang lain untuk mengambil keputusan sesuai dengan pilihan bebasnya, tapi disisi lain justru sering membuat lawan bicara kita merasa tidak dihargai pada momen momen tertentu.

Hal tersebut memang kerap kali terjadi pada sela sela hari dalam kehidupan kita. Disadari ataupun tidak, ungkapan "mulutmu harimaumu" dirasa tepat dalam.konteks diatas.

Andai kawan saya diatas sewot dan menyuruh saya buru buru ke tempat dimana saya dan dirinya bertemu, boleh jadi saya akan bersemangat mengejar waktu.
Tapi, sore itu saya malah jadi marah dan bad mood hingga akhirnya saya memutuskan untuk langsung pulang untuk menyempurnakan tugas saya yang sudah selesai tadi.

"kadang kadang membebaskan orang lain malah beresiko membuat mereka merasa tidak dibutuhkan. Sebaliknya, mungkin pada beberapa kesempatan kita sesekali 'mengekang" mereka sebagai wujud kita sangat memerlukan mereka".

Dunia memang aneh ya...

0 komentar:

Poskan Komentar